Menjawab Pertanyaan Gubernur Sulsel Tentang Cold Stroge Di STA Agrobisnis Sumillan Tidak Dipakai 2 Hal

Enrekang-Sulsel, Kilaunews.com ||| Lanjutan berita mengenai bantuan mesin pendingin Cold Stroge yang ada di Terminal Agrobisnis Sumillan, Kecamatan Alla, Kabupaten Enrekang, Provinsi Sulawesi Selatan, tidak terpakai ada 2 penyebabnya, Rabu (15/03/2023).
Hal ini diungkapkan Selaku Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Enrekang, Provinsi Sulawesi Selatan Addi.,SP ketika ditemui diruang kerjanya mengatakan, bahwa penyebab pertama mesin ini tidak dipakai karena beban listrik yang cukup tinggi kafasitasnya, ketersedian listris di STA tidak cukup.
Kedua mengingat produksi bawang merah sekali panen sekitar 100 ton, satu petani saja biasa panen sampai 20 ton, dan produksi bawang merah pertahun mencapai 145 ton, jelas daya tampung kecil.
Dan para petani lebih banyak menjual langsung ke Pedagang, karena lebih cepat mendapatkan uang, untuk membayar tenaga kerja dan kebutuhan yang mendesak.
Kata Kadis pertanian yang sebenarnya kami butuh adalah gudang yang kafasitasnya yang besar dapat menampung produksi bawang merah yang banyak sampai ratusan ton.
Lanjut, kepada wartawan Kadis Pertanian Addi mengatakan, dari pada mesin ini tidak digunakan, jika ada Daerah lain di Sulawesi Selatan yang ingin memintanya dan disetujui oleh Gubernur silahkan, memang dulu ada yang tanyakan mesin ini, ucap Addi.
Kemudian lanjut, mengenai kebutuhan bibit bawang merah setiap tahunya, Kadis Pertanian Addi mengatakan, kebutuhan bibit bawang merah pertahun sekitar 14.000 ton dari luas area tanam 14.000 hektar dan 1 hektar butuh 1 ton.
Untuk bibit yang dipakai petani bawang merah, Addi mengatakan, bibit yang digunakan kebanyakan dari Nganjuk Varitas Tajuk, ada juga dari Bima Varitas Super Philips dan ada juga bibit lokal.
Mengenai keunggulan bibit ini, kata Addi bahwa ada keunggulan masing-masing kalau Nganjuk Varitas Tajuk produktivitasnya tinggi namun umbinya kecil, kalau Bima Varitas Super Philips produktivitasnya rendah namun umbinya besar dan warnanya merah.
Sedangkan bibit lokal cukup baik sedikit tahan hama dan sudah beradaptasi dengan iklim setempat dan juga tinggi produktivitasnya, ada seorang petani menanam menggunakan bibit lokal penangkar Mufli Jaya dia tanam 1.400 Kilogram, hasil panennya mencapai 7 ton.
Adapun penangkar bawang merah yang bersertifikat yaitu, Penangkar Dwikiya milik Sulnaim Djamadi, yang ada di Lamba Doko Kelurahan Tanete, Kecamatan Anggeraja dan penangkar di Loko Djarun, CV. Mufli Jaya ketuanya Fahrul Desa Mampu, Kecamatan Anggeraja, dan penangkar di Saruran, Kecamatan Anggeraja Ketuanya Suharman.
Kalau kita andalkan bibit Nganjuk, yang mensubley tiap Kabupaten Nganjuk sendiri dan Kabupaten Enrekang dan beberap di Kabupaten di Jawa, tentunya harga akan mahal, maka kedepan kita dorong penangkar lokal dari Kabupaten Enrekang agar mampu memproduksi bibit yang cukup untuk memenuhi kebutuhan petani kita di Enrekang, imbuh Kadis Pertanian Addi., SP kepada wartawan.
Laporan : Hafid





